Pages

Monday, October 22, 2007

Hard Languages

My friend, Jim Cooper (from Poland), ever told me that his language, which is Poland, is one of hard languages around the world. He said that because he knew that I’m really interested with it, and wanted to learn it even a bit. Gah, I’m sure I can’t learn it a.s.a.p! XD I was thinking about it. What were the other hard languages around the world beside Poland? On my opinion, I had these; French, Czech, Gael, Afrikaans, Dzongkha, Belarusian, Bengali, Catalan, Cherokee, and many more!! I think they’re hard to learn too, beside someone haven’t teach me even one from that list :p Indonesian, my language I think is easy to learn (and must be added on easy learning language list) The hard point I think is on the local language of each ethnic, and also the dialect. In Indonesia, we have so many ethnic. Javanese, Maduranese, Sundanese, Betawi, Bataks, Minang, Dayak, etc! Wooh, each ethnic had their language. I was Javanese, and sometimes I uses Javanese language to communicate. Javanese is dominate the capital city, and almost all around the important thing. Ah, but it isn’t problem! We’re all live together, and peace, because of national motto “Bhinneka Tunggal Ika” mean “Berbeda-beda tapi tetap satu” or “Even different, we’re still one.” Javanese language had parts. It had ‘language-stairs.’ The first is ‘Ngoko,’ that language we use if we talks with someone who have closer. Ngoko is the rudest language in Javanese’s language-stairs. Then, we have ‘Krama,’ which use if we talks with someone older, or we honors. Then, the highest is ‘Krama Inggil,’ we always use that language when we talks to elder. Gah, I haven’t learns Krama Inggil at all! It was so hard for me~ My father was so smart about Krama Inggil, but I dunno why he won’t to teach me more about it. He said English is more important than Krama Inggil! What the…? I wanna learn my culture deeper than before, but why my father ordered me to learn foreign culture? However, it really make me different in many ways, such as style and character. And I’m sure, my father will be sorry for it… :p Haha, I think the hardest is LOXIAN, elves language which J.R.R Tolkien has made, and Enya, the singer, has sang on her newest album Amarantine. Wanna hear Enya singing her Loxian’s language? I found her links on Youtube. Enjoy!

Me n My Brother : A different siblings!!



I know different between me and my brother! I really realize that, but I dunno why my brother doesn’t. Tee-hee, my characters was so confusing; sometimes I can be good girl, but sometimes isn’t! let us take an example. I can be so rude and say vile words when angry, but in some ways, I never do that even I angry. Gah, where’s my real characters actually? XD my brother is different. He is patient enough, and a kind of diligent and good boy. He obey our parents, and respect them much, even sometimes our parents disappoint to my brother. Ups, but they’re lot have disappoint to me (especially my father)

The reason I’ve be so rude and evil I think was my parent (again, especially my father did) I and father almost have same character in some ways. But I never like the way he does. Beside, he likes torture my mother! I swear it’s true! This secret was told to me by mother. I close to her enough, so I know her problems. My brothers don’t know anything. Yup, I have two brothers. But here, we’re talking about my old brother, not my little brother. Me and little brother have same things lot, that’s why no need to talk about his characters lot here… :p

Ah, back to topic~! So, my conclusion nowadays, take my father as the cause. Yupz, I know that. I hate him, so that’s why I’ve been so rude and wild in front of him. Gosh, whatever happen, I’ll just keep like this. I want he know that I really hate him, whatever happen. He had make my mother tortured for those years, and never say sorry! What a jerk, don’t he? My brother always advices me to stop it, but I won’t. “This is my way to show what my heart feels. Hey, we’re free! This is democratic country! Where’s your spirit?!” I said it sometimes to my brother, and (later) to my father when I angry. Gah, when I angry, he angry too… and our home will looks like world war III! What will happen if rude daughter meet evil father? Haha! It is ordinary atmosphere on our own home. Old brother is very rare at home. He’s busy with his organization and college, so I freely to begin war whatever I want. Haha, I think enough for this journal. Have a nice day, everybody!

Friday, September 21, 2007

Boy's Type

My Boy's Type??? ^_^; I've talked and talked with my friends in school. Yup, I've go back to school since last monday, September 3rd, 2007... ;) And last friday, we talked about BOY's TYPE...~ OMG, they're asked me, how's boy I've dreams like. Allright, here is my kind of boy I like; >>He must me had same believe like me. We must believe in God... >>He can regard the traditional culture of Indonesia! >>He must appreciate me well, and can gimme some advices if I'm wrong... >>He can handle problems lot, it mean he must had responsibility >>Handsome or no, whatever God choose for me, I'll take it... >>A man who can gimme flowers when I'm down... are you there...? XD Allright, and I have idols on my school, which is bro Kresna, the leader of traditional Javanese music lesson, then Yoogi, the member of Mahardika, a traditional dance for boy, symbolize the great of Javanese man's power... and the last is... bro Irfad he joined with BDI (Badan Dakwah Islam, an Islamic group) and being a musician fo the nasyiid group. They're my tipe~ Do you know nasyiid? Nasyiid is great music with no instrumental~ the instrumental comes from their mouth. They're play tune with their mouth! Cool! Someday I'll send our nasyiid video, and be amazed of it!! Hyaaa~~~ We love you, bro Irfaaaaad~!! XD Ah, for note, I'm just idolize them, I won't they're being my boyfriend or so on. I just wait for my graduate, and have college. Then, I'll marry with someone who I love and he love me well, from his deepest mind... I still won't have boyfriend now... For now on, I'm just love my God... I'm always love HIm... no matter what. But after I have husband, I'll love him by death and live, beside I love God... because my religion told me that a wife must obey with husband in good things, and advie her husband if he have wrong... that's the love. But the true love is between we and our God... ;)

Sunday, August 19, 2007

Short Stories : GADIS ITU

Aku terkejut ketika pintu ruanganku terbuka, dan masuklah seorang perempuan dengan wajah kusut dan bersungut-sungut. Matanya pucat, terlihat seperti tidak tidur selama beberapa hari. Wajah yang lumrah kutemui, dan bahkan, bila tidak ada wajah seperti itu yang masuk ke kantorku, sama saja aku tidak mendapatkan gaji. Yah, karena aku adalah seorang psikologi. Atau psikiater? Ah, terserahlah. Aku hanya menuruti apa yang orang juluki padaku. Dan urusanku, adalah bertatap muka dan mengajak ‘orang-orang tertentu’ untuk saling bercurhat. Dan sekarang, salah satunya sedang berhadapan denganku... “Ya...?” tanyaku lembut, seraya memberikan senyuman yang lebar pada remaja itu. “...apa masalahmu kali ini, dik...?” Perempuan itu mendengus. Ia duduk di kursi yang tersedia di depan mejaku dan kemudian ia bersandar dengan kasar padanya. Ia masih bersungut-sungut, dan tidak mau menatapku. Matanya hanya teralih pada lantai yang berkotak-kotak. “Dik...?” tanyaku sekali lagi. “...ada sesuatu yang...” “Banyak!” perempuan itu menjawab, dengan nada datar, dan masih tidak mau memandangiku. “banyak sekali...” Aku mengangguk pelan, dan mulai membuka buku catatanku. Akan kucatat segala yang dikatakan pasien, agar aku dapat menganalisis pada akhirnya. Pernah suatu ketika, aku mewawancarai seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya, dan dari segala aspek perilaku serta jawabannya yang tertera dalam buku catatan wawancaraku, akhirnya aku dan pihak rumah sakit menyatakan bahwa ia sakit jiwa. Sampai sekarang, masih kuingat jelas kepanikanku ketika aku mengetahui dialah pasien pertamaku yang ‘tervonis’ sakit jiwa, dari aku membaca catatan tentangnya. Yah itulah gunanya catatan; membangkitkan kenangan dan memori yang akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri, dan para perawat akan mengatai bahwa aku sudah tertular para pasienku yang memang rata-rata suka tersenyum dan tertawa-tawa sendiri. “Jadi... apa masalahmu? Kalau seusiamu, biasanya broken home?” “Mungkin bisa dibilang...” perempuan itu menghela nafas, dan kemudian menatapku sayu. Rambutnya yang panjang sedikit bergerak seiring dengan kepalanya yang menatapku. Syukurlah, akhirnya ia mau juga menatapku. Kupikir saking depresinya, ia tidak mau menatap orang lain. “Jadi... bisakah kau ceritakan... secara spesifik padaku, dik...?” aku berusaha sekuat tenaga mempertahankan sikap lembutku, karena aku tau dampak yang akan terjadi kalau aku tidak menggunakan logat kelembutanku. “Bagaimana rasanya, jika anda dipanggil sampah oleh ibu anda?” “Eh...?” “Aku tanya, bagaimana rasanya, jika ibu yang membesarkan anda, yang mengandung dan melahirkan anda, memanggil anda sampah? Dan juga, perempuan itu juga mengatakan kalau semua hasil karya tangan, semua nilai, semua pekerjaan yang anda buat adalah sampah belaka?” Aku berusaha meresapi baik-baik kalimatnya. Sesekali kucatat juga dalam bukuku. Mungkin akar permsalahan perempuan di depanku ini adalah ibunya. “Jujur saja,” aku tersenyum. “saya sangat sakit hati, dik...” “Huh, anda berarti tidak turut menyesal dengan apa yang telah saya alami, kan? Buktinya anda masih tersenyum seperti itu!” Oh, Tuhan... seakan rasa benci menjalar di otaknya! “Apakah masalahnya hanya itu? Mungkin saat itu beliau merasa kesal dan capai, lalu...” “Pergi saja ke liang kubur! Aku tidak butuh argumentasi sarjana seperti anda. Orang-orang bodoh yang seenaknya saja menggunakan intelegensi mereka untuk mengatur kata-kata dan membuat orang lain tunduk! Dasar tanah busuk!” Aku memejamkan mata, dan mengambil nafas dalam-dalam. Wah, wah, memang benar, otaknya sudah rusak karena kebencian. “Dik...” aku menggigit bibirku. “saya tau kalau ini berat bagi adik, tapi adik juga perlu mengerem cara bicara adik...” Dia mulai menggeleng pelan. Serta-merta, dibenamkannya wajahnya kedalam pelukannya sendiri, seakan ia menyesal pada apa yang telah ia lakukan. “Maaf, entah kenapa. Tahun-tahun belakangan ini aku benar-benar rusak. Padahal dulu tidak. Sama sekali tidak...” “Berapa umurmu, dik?” “17 tahun...” “Oh, masih dalam masa puber. Mungkin kamu terlalu terpengaruh lingkungan.” Dia terdiam. Merenungi dan meresapi, seperti kebanyakan orang lainnya jika kita sudah mengatakan satu-dua patah kata mengenai sisi lainnya. “Ah, ibu dan ayah sama saja. Keduanya tidak pernah ada. Keduanya tidak pernah peduli...” aku terdiam, menunggu ia berbicara lebih jauh dalam tundukan kepalanya. “hanya adik yang dibela-bela. Ketika aku salah, mereka memarahiku habis-habisan. Jika adik yang berbuat salah, keduanya masih membala, memberi celah yang samar-samar bisa menutup kesalahannya, hingga yang disalahkan adalah pihak lain. Setiap kali, aku berbuat kasar dan melatih adikku untuk mandiri, untuk tidak manja. Tapi dua orang itu... dua orang yang sok kuasa itu... seenaknya salah tafsir, dan mencapku sebagai anak yang semaunya sendiri, anak yang... AAAAH!! MEREKA SEMUA SETAN!! MEREKA SEMUA KUTU NERAKA!!” Dia menggebrak-gebrak mejaku. Samar-samar bisa kulihat ia menintikkan air mata. Lumrah, seorang perempuan dalam masa pubertas yang mengalami hari perih tanpa bimbingan dan dorongan. Tapi perkataan kasarnya yang membuatku sesekali terpekik kaget, kenapa seorang perempuan dengan wajh lugu ini bisa bermulut tajam dan menusuk seperti itu? Apa orang-orang yang dibencinya pernah ia katai secara langsung seperti itu? Aku berdeham. “Dik, apa... kamu pernah... berkata secara langsung pada orang tuamu... perkataan-perkataan itu...?” Perempuan itu menggeleng, sambil tetap menangis. Sesekali air liurnya turut membasahi, menambah semaraknya tampilan berantakannya. “Lalu... dimana sekarang, keluargamu itu...?” “Di... tempat masing-masing... untuk... kerja...” “Mereka... gila kerja, ya?” “Berangkat pukul tujuh, pulang pukul enam sore. Kesempatan bagus untukku pergi bersama geng graffiti jalanan...” Aku terbelalak. Heh? Graffiti jalanan? Oh Tuhan, jangan-jangan anak ini salah satu dari biang keladi yang sangat suka corat-coret tembok kota itu? “Kamu... dan geng-mu itu...” aku tergagap. “benar-benar...” “Ya, kami suka corat-coret tembok polos di pojokan kota. Memang aku tidak resmi anggota mereka, hanya sesekali menonton aksi mereka, kabur ketika ada yang melihat, dan kemudian... pergi ke hiruk-pikuk masyarakat untuk menghilangkan jejak. Profesional, kan? Bahkan kamarku sudah aku corat-coret duluan, jauh sebelum aku kenalan dengan mereka. Itu tanda, bahwa itulah awal aku suka dengan jalanan... 2 tahun yang lalu...” Kugoreskan kembali penaku pada buku catatan. Perempuan ini benar-benar butuh pengawasan! “Lalu, apa kata orang tuamu begitu tau kalau kau mencoreti dinding kamarmu, dua tahun yang lalu?” “They just silent. Ignore me...” Aku mengangkat alis. “Ow...” “Tapi sejak itulah julukan ‘anak yang semaunya sendiri’ mulai digalakkan!” Aku mulai menyukai logat perempuan misterius ini. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk lebih memfokuskan pertanyaan seputar dirinya daripada orang tuanya, agar aku bisa lebih mengenalnya, dan menyimpulkan kepribadiannya. “Uhm, corat-coret tembok, jalan-jalan, dan bergraffiti-ria. Kau suka seni, ya?” “Dia pacarku. Aku tidak suka cowok, tapi suka seni!” “Hmm... sangat mengagumkan. Lalu, tak apa, kan, kalau aku tanya bertubi-tubi padamu?” “Tak apa. Aku suka pertanyaan mengenai diriku...” ia mulai tersenyum kecil. Baguslah, aku naik satu tahap padanya. “Baiklah, kau bersekolah, kan? Apakah di sekolah kau mempunyai teman?” “Teman banyak, sahabat ada. Tapi yang paling aku junjung tinggi hanyalah graffiti. Aku tidak butuh yang lainnya untuk penenang stressku...” “Coba kutebak. Kau suka memendam rasa marahmu, kan?” “Kurasa.” "Dan kau pasti selalu merasa pusing dan penat, setiap kali kau merasa kesulitan, ataupun sedih, iya, kan?” “Efek dari meredam amarah dalam jangka waktu yang panjang. Tak usah kau beritaupun, aku sudah tau!” Aku tertawa grogi. Dasar! Kemampuan gadis ini boleh juga! “Oh, ya, aku ingin tanya. kau pasti sangat membenci rumah, kan?” Ia terdiam. Pandangannya berubah menjadi mengerikan. “Yang mana? Ada sekolah, jalanan, dan tempat tinggal orang tuaku. Yang mana rumah?” Aku menghela nafas. Rumah ia sebut tempat tinggal orang tuanya? Berapa dalam jurang kebenciannya pada orang tuanya?? “Selama ini kau hidup dimana?” “Dengan terpaksa, aku numpang makan dan tidur di tempat tinggal ortuku. Selebihnya, aku berada di jalanan, dan sekolah. Jadi, yang mana rumah?” Ini ujianku. Yeah, aku yakin gadis ini adalah ujianku. Perempuan yang broken home dan sangat membenci orang tuanya, melebihi apapun.... aku harus menyadarkannya! “Ng... dik..” aku menepuk dahiku perlahan. “kau ingat jasa yang diberikan orang tua padamu?” Ia terdiam lagi. Berpikir, kemudian bersandar pada kursi. Lalu, sambil berhitung dengan jari, ia mulai mengatakan rentetan kata; “Ng... memberi uang untuk SPP sekolah, membelikan baju seragam, memberikan uang untuk pelunasan uang gedung yang ditunggak, dan kemudian... membiarkan aku hilang selama dua malam berturut-turut untuk menyelesaikan graffiti. Yeah, hanya itu...” “Yy... yang... lain...?” “Sudah aku lupakan. Sudah aku kubur, dan aku tidak bisa ingat lagi...” “Dan.... semuanya untuk... sekolah?” “Itu sifat mereka. Hanya mau UNTUK SEKOLAH. Yang lain, aku berusaha sendiri. Aku tidak butuh mereka untuk apa yang aku butuhkan. Aku hanya butuh mereka untuk pengambilan rapot, panggilan orang tua, dan acara wisuda. Selebihnya, aku bisa mandiri. Hanya itu yang masih bisa inderaku rasakan...” “Kau... kau terlalu...” “Aku mau pergi. Hawanya tidak enak di rumah sakit ini. Apalagi di kantor dokter bedah, banyak yang menungguinya...” “HAH? Apa katamu...?” aku terbelalak, berharap salah dengar. “Dokter bedah memang pendosa. Terlalu banyak membedah. Mati juga pasti rohnya dibedah oleh korbannya...” perempuan itu segera berdiri dari kursi pasienku. Serta-merta, ia berlari menuju pintu, dan menutupnya keras-keras. Aku menghela nafas panjang. Kalau dibiarkan lebih jauh, anak itu bisa berbahaya! Lagipula, kalimat-kalimatnya juga membuat bulu kudukku merinding! Atas kemauanku yang bulat ini, aku berniat untuk mencegahnya pergi. Kuberdirikan tubuhku, dan aku segera berlari kecil menuju pintu kantorku. Ketika aku membukanya, aku terkejut. Aku hanya mendapati lorong panjang rumah sakit, tanpa adanya sosok perempuan remaja yang sedang berlari atau berjalan. Glek! Kemana dia? Kemana perempuan itu? Pandanganku teralih pada jendela yang terbuka lebar, tak jauh dari pintu kantorku. Aku berjalan menuju arah jendela, seakan sesuatu menuntunku untuk kesana. Semula tak ada yang aneh ketika aku ‘bertengger’ di jendela itu. Tapi ketika aku menatap ke bawah, sesuatu membuatku terperangah. Seutas tali, yang kuingat seperti tali milik anak pramuka, terhampar kebawah. Dan disana, diujungnya yang menempel ke atap bangunan lantai satu, terdapat sosok yang dengan santainya berjalan, sambil sesekali tertatih karena licinnya atap. Perempuan itu! Dia sudah benar-benar kacau! Berani sekali ia pergi melalui jendela, dan berjalan diatas atap rumah sakit. Kalau ada security yang tau, ia bisa ditangkap dan diadili!! Merasa diperhatikan atau memang ia sudah tau, perempuan itu menoleh pada arahku, dan tersenyum lebar. “Maaf, aku tidak bisa bayar biaya konsultasinya!!” Tubuhku lemas seketika. Bukan, bukan perihal ia tidak membayar, tapi, kenakatan dan kekacauan otak perempuan itu! Dan mulai detik ini, aku bertekad, kalau aku harus mendapatkan perempuan itu, entah kapan, bagaimana, dan dimana, aku harus mendapatkan perempuan itu, untuk menyadarkannya... ~ “Siúil trí na stoirmeacha” Prologue Lulu @ 2007

Monday, July 9, 2007

Ayame and Rikimaru Addict~! Yes, it’s me; Rikimaru and Ayame addict!! I’m 100% support love between Ayame and Rikimaru from Tenchu series! Yes, and I’ve made their GIF animated. The pictures taken from the opening movie of Tenchu 3: Wrath of Heaven/Return from Darkness. Are you support their love too? ^^ I knew Ayame was first falling love with Tatsumaru, his older clan mate. But Tatsumaru loved Kagami, another ninja, and he treasonous with his clan, no matter what! Then Ayame swear will kill Tatsumaru, and she did it. Oops… no more TATSUMARU! Let Ayame and Rikimaru have their own way~! ^_^v Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, July 2, 2007

Success Pass the Final EXAM!!

Finally I could hear the announcement of the final exam. I've got quiet nice mark, which 8.0 for Math, 9.6 for English and Indonesian test. MY GOD!! The English and the Indonesian just wrong two numbers!! Failed to get 10.00 mark!! So, the total was 27.20 hmm it's okay, 27 is quiet nice mark for me. GOD REALLY SAVE ME!! Thanks a lot GOD!! I love you!! Life is full with problem, and God will save us, just like I'm always say :D And this is also because you, who have been pray for methank a lot guys Now Im so confuse to choose which High School Ill choose for the next. My father ordered me to go to High School 01 or High School 04. But hmm who knows then? I also want to go to High School 08, my brothers ex-school. Ah, just wait and see where Ill take my next-gen-education then! :D Ill took PSB Online(enrolment of Indonesia school by internet, so it was so easy and quick than manual-enrolment) for my enrolment to High School that I want. If I fail to go into one of public school, Ill go to Art High School on Surabaya, other city. Hope thats not happen my father optimist that I could go wherever school I wanted too hehe hope hes right :D The graduation ceremony was held on June 23, and were all, the nine-grade students, wear white formal shirt, black tie, and black trouser/skirt. Tee-hee then~ were just like salesman!! lol I borrowed my camera, shot all that I could shot, and collect it on my photo album ;) IM, THE NEW HIGH SCHOOL STUDENT!! KYAAA~!! :D Goodbye my Junior High School! Ill be always remembers you in my heart! So many memories and thing youve gave to me on 3 years. Dont forget to have reunion then! :D Oh, say congratz to my dear friend; Indra Firmansyah. He's success to have scholarship on Singapore for several years, on Anglo Chinese School. Hell go on December. Congratz, Indra!! We'll miss you always~

Youtube Download Trick!

Youtube, large web which we could find hundred videos, not give us chance to download the videos. But now, with hi-tech and bit creativity, we could enjoy the downloadable Youtube videos! There are easy way to download the videos of Youtube. The first option was by visit Youtubex, and follow the procedure on that site. But I'm always choosethe other option; by Qooqle Youtube Downloader. Remember, not GOOGLE but QOOQLE. First, open the Youtube.com, and look at the video you wanted to download. Look at the link, and copy it to clipboard. Then, open http://video.qooqle.jp/dl/, paste the link on the blank form on the sites page. It will be show GET DOWNLOAD LINK URL button as soon as youve paste the Youtube link. Click the button, and there will be show a new link. Its a link for download the video. Copy that new link, and paste it into your download manager (just like KGet on Linux, or Fresh Download). Let the download manager finish its job to download the video to your local hard drive. If it was finish, look at the video that youve download on the drive, and rename the file with add extension .flv behind it. Example: get_video1 rename to get_video1.flv then use Kingvidia converter to convert it into wmv or mpg, as you choose. If you wont to convert it, you also could play the flv video with GOM Media Player, or Kingvidia Media Player (which you can get from Youtubex). Ive got so many videos (without ignore the copyright, of course) and watch it together with my friends. This technique was teach by my friend brother Heru and brother Andre from Galerinet Forum. Have a nice try you all!