Pages

Sunday, January 31, 2016

Menjadi Mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta (Part I)

Part I: Kikuk dan gugup, tapi ayo move on!
kelas penciptaan seni lukis 2015 bersama dosen kesayangan

Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa seni? Saya sering mendapatkan pertanyaan ini. Karena disela teman-teman jurusan lainnya sibuk dan stress dengan kuliah bahkan jenuh, kami yang jurusan seni ini masih terlihat berjalan-jalan santai dan masih sempat tertawa. Tidak banyak tugas? Tidak juga. Tugasnya tidak menuntut? Salah. Dan akhirnya muncul kesimpulan lain, “Alah tugasnya Cuma nggambar,” dan ini yang sering membuat kami semua, mahasiswa seni, geram.

Dibilang santai tidak. Dibilang longgar juga tidak. Apa yang membedakan kami dengan keilmuan yang lain? Kami mengerjakan segala sesuatu dengan feeling. Ya, feeling, bukan sekedar teori ini itu buku ini itu. Ada hal yang menarik saat kita mengerjakan segala sesuatu dengan rasa. Ada dorongan semangat besar, juga rasa bahagia yang tidak terucap. Wajar jika orang bilang mahasiswa bahkan dosen seni awet muda. Itu tidak bohong.

Mendapatkan pengumuman dari web bahwa saya diterima di Pascasarjana Institut Seni Yogyakarta malam itu di bulan Juli 2015, saya menangis. Sujud syukur dan memeluk kedua orang tua, saya tidak henti-hentinya mengutuk diri sendiri yang selama ini pesimis dan sempat berhenti berkarya karena banyak tekanan batin. Mungkin ini jalan pertama Tuhan memberikan peringatan pada saya untuk kembali memutar otak dan tangan untuk berkarya. Saya diterima di jurusan Penciptaan Seni Lukis, sebuah jurusan magister yang akan lebih mengedepankan produk daripada teori-teori berbelit. Tapi bagaimanapun, meski jurusan murni, saya tahu bahwa S2 itu bukan taman bermain corat-coret. Pasti ada teori yang lebih jahat dan lebih intens, daripada S1. Mental saya sudah siap untuk itu.
Contoh thesis. Penuh dengan curhatan!


Kami tidak langsung masuk ke kelas. Ada seminggu kelas pembekalan, begitu bunyinya. Jikalau tahun lalu namanya matrikulasi dan digunakan untuk menyetarakan umat, kali ini bermotif memberikan bekal awal pada mahasiswa yang sudah diterima untuk menghadapi perkuliahan. Materi yang kami dapat adalah Filsafat Ilmu dan Penulisan Ilmiah. Menarik, ini mata kuliah teori yang dipandu oleh seorang profesor dan doktor yang sama-sama lulusan luar negeri. Bukan hal yang spesial, di ISI Yogyakarta ada banyak dosen lulusan luar negeri. Saya kembali mengutuk diri, kenapa dulu tidak memperjuangkan beasiswa keluar negeri yang ditawarkan pada saya dengan alasan tidak pede dan takut cultural shock.  Dan di akhir minggu, jumlah kami berkurang. Ada banyak mahasiswa yang mengundurkan diri, pindah karena diterima di universitas lain, maupun dikeluarkan karena tidak mengikuti materi dengan serius. Oke, berarti yang ada di sekeliling saya adalah orang-orang terpilih. Setidaknya untuk masuk Pascasarjana ISI Yogyakarta ada 2 tahap eliminasi. Di awal saat pendaftaran, dan setelah pembekalan. Saya melihat teman saya gagal masuk di tahap satu, bahkan seorang wanita ramah yang berkenalan dengan saya di saat pembekalan juga gugur.

[YANG HARUS DISIAPKAN UNTUK S2: SERTIFIKAT TOEFL, MINIMAL 450 + SERTIFIKAT SKOR TEST POTENSIAL AKADEMIK + PORTOFOLIO KARYA SENI 5 TAHUN TERAKHIR + FORMULIR PENDAFTARAN, LENGKAP DENGAN BEBERAPA TULISAN ESSAI SESUAI KEBUTUHAN + ARTIKEL KORAN/MEDIA MASSA TENTANG ANDA ATAU KARYA ANDA + SERTIFIKAT LOMBA, KEJUARAAN, SEMINAR, AKTIFITAS KESENIAN]

UAS: Satu soal harus dijabarkan minim dua halaman
Masuk ke kelas, shock menerpa dengan deras. Teman-teman sekelas saya rata-rata adalah seniman akademis yang sudah memiliki nama di kancah pergulatan umat artistik, nasional maupun internasional! Ataupun kalau tidak, mereka sudah memiliki basic estetika yang mantap dan tajam, seakan membunuh saya si kerdil lulusan pendidikan seni rupa ini. Di pendidikan senirupa, S1 saya, kami dilatih untuk menjadi guru. Kami belajar seni secara praktis, namun lebih banyak porsi teori pendidikannya. Di kelas Penciptaan Seni Lukis saya, hampir seluruhnya lulusan seni murni. Sudah, jangan tanya bagaimana cara mereka memandang kanvas dari sisi pengetahuan kesenian. Saya hanya batu kerikil. Tapi sekali lagi, saya menengadah kebawah, memandang para pejuang gugur yang gagal masuk kemari. Kenapa para dosen memilih saya? Kenapa Tuhan mengirim saya? Kenapa tidak mereka? Berarti saya bisa. Dan begitulah yang juga diucap oleh direktur kami, Professor Djohan, “Kami memilih kalian karena kalian memiliki potensi.”

Semester pertama, kami berkenalan dengan kikuk. Saya berpikir kelas magister akan penuh dengan orang yang lebih tua, separuh baya maupun baya. Ternyata kelas saya perupa muda semua. Ada juga yang fresh graduate, membuat kami cukup nyaman berinteraksi. Yang paling saya suka, rata-rata sudah mengalami banyak hal dalam kehidupan dan menghargai privasi. Saya orang yang insecure, namun kelas ini memberikan rasa nyaman karena toleransi yang tinggi. Mereka tidak segan membantu
teman lain untuk berkembang. Meski saya akui, ya, ada rasa kompetisi positif yang berdetak disana, tertutup dengan rapi dan bersih, namun tidak mengancam. Saya masih bisa mentolerirnya.


salah satu pameran thesis mahasiswa S3 keramik
[MAHASISWA S2 FRESH GRADUATE DAN YANG SUDAH PERNAH BEKERJA AMAT BERBEDA DALAM MENYIKAPI TUGAS DAN MENYELESAIKAN MASALAH. SERING TIMBUL KONFLIK, APALAGI LINGKUNGAN MAHASISWA SENI.  S2 TIDAK HANYA MENGEJAR GELAR FORMAL, NAMUN JUGA KEDEWASAAN DIRI. BE AWARE, MARI BERLATIH MENAHAN DIRI DAN TOLERANSI]


1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete