Pages

Sunday, January 3, 2016

Howl's Moving Castle: Film vs Novel



Howl’s Moving Castle adalah salah satu animasi keluaran Ghibli Studio pada tahun 2006. Masuk pada nominasi Academy Award, dan dipublikasi oleh Disney untuk pasar barat. Sama seperti animasi buatan Ghibli yang telah ditonton, saya tertarik dan ikut haru dengan ceritanya. Well, selain juga jatuh cinta dengan karakter penyihir utama, Howl Jenkins Pendragon. Terkejut bahwa Christian Bale (si Dark Knight Rises) yang mengisi suaranya untuk versi English dan Kimura Takuya untuk versi Jepang, rasa jatuh cintanya juga semakin dalam. Sepertinya tinggal tunggu waktu saja menarik teman untuk bercosplay menjadi Howl.


sampul buku, dengan penggambaran kastil bergerak Howl

Menelisik lebih dalam, ternyata animasi ini adaptasi dari novel tahun 1986 berjudul sama. Novel ini merupakan trilogi dari “The Castle” karya Diana Wynne Jones, seorang novelis British. Novel ini sendiri sudah memiliki penghargaan Pheonix Award dan masuk nominasi di Boston Globe–Horn Book Award.  Hayao Miyazaki, sutradara dari film ini, datang sendiri ke Inggris untuk bertemu Diana dan meminta izinnya untuk membuat film berdasarkan novel faforitnya ini.

Mencoba membeli bukunya namun belum kesampaian, akhirnya mendapatkan ebook gratis versi original Inggrisnya dan menghabiskan waktu untuk menelaah. Tentunya banyak perbedaan yang disampaikan, dan artikel ini bertujuan untuk mengungkapkannya 




[SPOILER ALERT. JIKA HENDAK MEMBACA BUKU MAUPUN MENONTON FILM UNTUK MENIKMATI CERITANYA, LEBIH BAIK JANGAN MEMBACA ARTIKEL INI]



ANTARA KETEGANGAN DAN KEDAMAIAN: PERANG
Film: Perang berkecamuk di dunia mereka. Kedua kerajaan saling serang, baik dengan kekuatan udara maupun laut. Muncul monster-monster menyeramkan yang menjadi alat perang. Teknologi sudah cukup maju, bertolok ukur dari desain-desain steampunk. Howl dikenal sebagai penyihir yang gemar mencari gadis muda untuk dicuri hatinya, namun ia bukan ancaman yang begitu besar, jika dilihat dari bagaimana para gadis di toko topi membicarakannya dengan ceria.

Novel: Tidak ada perang, hanya murni cerita kehidupan sehari-hari. Ancaman yang mencekam hanyalah gosip mengenai Howl yang jahat, dimana para gadis dikabarkan dimakan hatinya dan tidak selamat, sehingga tidak diperbolehkan seorang gadis berjalan-jalan sendirian. Selain itu Witch of Waste juga merupakan momok, yang dikabarkan membunuh penyihir kerajaan dan pangeran. Tidak ada teknologi yang mencuat. Settingnya amat kuno, dimana kendaraan masih ditarik oleh kuda.     


SOPHIE: IBU TIRI DAN DUA SAUDARI.
Film: Sophie bekerja di toko topi, yang dimiliki oleh ibunya yang modis. Dia bukan gadis yang aktif
dan sosialis, serta sedikit pemalu. Pembuat topi yang tekun, memiliki beberapa pegawai di tokonya. Ia memiliki adik yang cantik dan populer bernama Lettie, yang bekerja di toko roti. Berbeda dengan Sophie yang dideskripsikan ‘tidak cantik’ dan ‘tidak pernah ada yang mengatakan dia cantik’. Lettie sangat sayang pada Sophie dan berharap dia mencari kehidupan yang lebih berwarna daripada hanya berdiam di toko topi yang membosankan tersebut. Sophie sedikit ketus, dari caranya membully Calcifer. Namun bagaimanapun, Sophie yang sesekali gemar berbicara sendiri ini sosok berhati lembut dan peduli pada Howl serta menyayangi Markl dan Calcifer.

Novel: Sophie bekerja tidak dibayar oleh Fanny, ibu tirinya yang modis, sepeninggal ayahnya yang memiliki toko topi di kota kecil Chipping Market. Sophie gadis yang ketus, dan tidak suka bersosialisasi kecuali dengan topi-topi hasil jahitannya. Dia suka berbicara dengan topinya, memuji mereka, karena kebosanan di toko topi. Dia memiliki dua adik yang sayang padanya, Lettie dan Martha. Jika Lettie bekerja di toko roti Caesari dan dikerubuti banyak pria, maka Martha pergi ke daerah lain untuk menjadi murid penyihir cerewet namun berhati lembut, nyonya Fairfax. Tidak betah, Lettie dan Martha bertukar posisi, dimana Martha menggunakan ilmu sihir untuk menjadi mirip dengan Lettie. Martha, yang kini amat bahagia bekerja di toko roti Caesari, meminta Sophie untuk berhenti diperdaya ibunya, dan memilih untuk melanjutkan hidup dengan hal baru.


PERTEMUAN PERTAMA DENGAN HOWL
Film: Sophie hendak menuju toko roti tempat Lettie bekerja, namun digoda oleh dua tentara yang memanggilnya “tikus kecil”. Howl datang dan memantrai kedua tentara, mengajak Sophie untuk berjalan bersama. Mereka diganggu oleh makhluk-makhluk hitam, yang kemudian membuat Howl terbang bersama Sophie, dan mengantarnya dengan anggun menuju toko roti.

Novel: Sophie hendak menuju toko roti tempat Lettie bekerja, dan disapa oleh seorang pria perlente yang tampan. Pria itu memanggil Sophie dengan “tikus abu-abu kecil” dan ingin mengajaknya minum. Sophie amat ketakutan, menolak dengan ketus, dan berlalu begitu saja. Pria perlente itu adalah Howl.



KUTUKAN THE WITCH OF WASTE
Film: The Witch of Waste adalah seorang perempuan gendut dan menor yang sadar bahwa Sophie sempat berjalan beriringan dengan idamannya, Howl, dan mampir ke toko topi Sophie untuk mengutuknya. Sophie amat terkejut dan mengalami shock bahwa dia menjadi tua renta, sekitar umur 90. Dia pergi keesokan harinya dari kota, karena tidak mau menampakkan diri dengan kondisi seperti itu.

Novel: Berbeda dengan film, si penyihir jahat ini adalah wanita cantik yang kurus dan modis. Dia sempat ter-offense dengan Sophie yang ketus, dan menyihirnya menjadi nenek-nenek. Sophie tidak terlalu frustasi dengan perubahan ini dan dia amat tenang menjadi tua. Dia merasa tua renta amat cocok dengan kepribadiannya yang membosankan. Terkuak di pertengahan cerita, Witch of Waste datang ke toko topi itu karena ia sadar topi hasil karya Sophie memiliki daya magis, dan ia datang untuk menyidak siapa penyihir yang membuatnya.


KASTIL HOWL YANG KUMUH
Film: Kastil Howl bergaya steampunk, dengan desain yang unik. Kastilnya terlihat seperti tumpukan rongsokan yang menjadi satu. Kamar di dalam kastil merupakan sebuah rumah sederhana dengan dua kamar dan satu kamar mandi di lantai dua. Sementara di lantai pertama hanya ada perapian tempat Calcifer, dapur kecil, rak obat dan mantra, serta meja. Sophie tidur di sofa dibawah tangga dengan tirai penutup. Kamar Howl merupakan kamar yang indah, dengan segala pernak-pernik otentik yang unik dan terasa royal. Sophie merapikan dan membersihkan debu serta mengusir hewan-hewan melata yang ada di rumah Howl dengan tekun, dan penghuni rumah tidak masalah dengan hal tersebut.

Novel: Kastil Howl begitu klasik, dimana potongan kastil kuno dari bata berjalan dengan tiang-tiang balok dari batu bata. Isinya tidak jauh berbeda, hanya kamar mandi berada di lantai satu, dan terdapat beberapa pintu lagi selain pintu utama yang mengantarkan pada halaman kecil penuh rongsokan dan juga gudang tempat menaruh perkakas. Lantai pertama penuh dengan obat dan mantra dalam mug-mug yang tertata. Sophie berjuang dengan keras membersihkan rumah tersebut hingga sakit punggungnya kumat terus-menerus. Ia dianggap sebagai ancaman dan terus dikeluhkan oleh Calcifer serta Michael. Howl memberikan syarat pada Sophie untuk tidak membunuh laba-laba, dimana kamarnya sendiri penuh dengan laba-laba. Kamar Howl amat kumuh dan berdebu (yaiks) dan Howl melarang keras Sophie untuk masuk, apalagi membersihkan kamarnya.



MURID HOWL: MARKL ATAU MICHAEL?
Film: Howl memiliki murid, bernama Markl (tapi sependengaranku lebih seperti ‘Marco’) yang masih anak-anak, sekelas ABG. Dia menggunakan jubah biru untuk menyamar menjadi pria tua setiap kali berhadapan dengan pelanggan ataupun keluar dari kastil. Dia juga memanggil Howl “tuan” dan begitu bertanggung jawab atas tugasnya. Penggambaran Markl begitu imut, dimana jiwa kekanakannya sering muncul dan memberikan warna tersendiri pada jalan cerita.




Novel: Namanya dieja Michael, dan disebutkan berusia 15 tahun dengan kulit gelap. Tidak ada jubah penyamaran selama berhadapan dengan orang luar. Tapi ada satu bagian dari cerita dimana ia terpaksa mengenakan jubah penyamaran yang membuatnya menjadi orang tua yang tinggi besar dengan janggut kemerahan. Dia memanggil Howl dengan nama, tanpa embel-embel majikan. Meski ABG, Michael merupakan sosok yang cukup dewasa dalam cerita. Ia juga jatuh cinta pada Martha, adik Sophie, yang bekerja di toko roti dan mendapatkan balasan.


TURNIP HEAD: ORANG-ORANGAN LADANG YANG SERAM
suasana dalam kastil & penggambaran
tokoh versi novel
Film: Sophie tidak sengaja menyelamatkan orang-orangan ladang yang terjebak di semak, dan mendapati benda itu hidup serta mengikutinya. Sophie tidak masalah dengan benda berkepala lobak tersebut (yang kemudian membuatnya memanggil ‘turnip head’) dan beranggapan dia makhluk yang baik. Turnip Head membantu Sophie masuk ke kastil Howl, mencuci baju, serta memberinya payung disaat hujan. Belakangan, ia berubah wujud menjadi pangeran yang hilang dari kerajaan tetangga setelah dicium oleh Sophie. Ia terkena kutukan yang akan hilang jika dicium oleh cinta sejati.

Novel: Terjebak juga di semak, namun tidak hidup pada awal cerita. Sophie gemar berbicara pada benda mati sejak novel dimulai (mulai dari topi dan tongkat berjalan), dan itu pula yang dilakukannya pada orang-orangan ladang yang kumuh tersebut. Setelah beberapa waktu, ternyata boneka itu hidup dan mengejar kastil Howl untuk bertemu Sophie. Dalam kondisi tubuh yang menua, Sophie selalu terkena serangan jantung (?) karena ketakutan dengan sosok tersebut. Howl bahkan sempat menerbangkannya dengan tornado agar menjauh dari Sophie yang ketakutan. Di akhir cerita, orang-orangan ladang ini ternyata adalah separuh jiwa dari penyihir kerajaan yang dikutuk oleh the Witch of Waste. Dia juga yang akan menjadi sosok penting bagi Lettie, adik Sophie yang mempelajari ilmu sihir.



HOWL SI PENYIHIR PERLENTE
Film: Berambut pirang dan anggun, serta banyak menghabiskan waktu di kamar mandi serta keluar untuk berpartisipasi dalam perang. Dia dapat merubah diri menjadi manusia burung yang gagah, serta cukup sering bertukar pikiran dengan Calcifer. Terkuak kalau ternyata kegemarannya lama di kamar mandi adalah untuk mempercantik diri, dan merasa tidak berguna kalau tidak tampan. Berambut asli hitam dan menenggelamkan diri dalam slime hijau saat galau. Howl pengecut dan selalu lari dari Witch of Waste yang mengidolakannya dan Madam Sulliman, penyihir kerajaan yang hendak menjadikannya pengganti. Ia masih kekanakan dan egois, serta selalu lari dari masalah, namun begitu anggun dan sedikit banyak dapat diandalkan. Ia juga terus berjuang untuk meredam perang. Karakternya berkembang seiring waktu, menjadi lebih dewasa dan romantis saat disandingkan dengan Sophie.

si manja dengan green slime
Novel: Totally a nuisance, Howl adalah pria playboy yang suka mengejar wanita untuk meninggalkannya. Tidak ada perubahan menjadi manusia burung, dan kerjaannya hanyalah keluar untuk mencari gadis sambil membawa gitar, meski ia tidak dapat memainkannya. Michael dan Calcifer lelah karena mereka selalu menghadapi komplain dari gadis dan keluarga yang dipermainkan hatinya oleh Howl. Pirang dan perlente, serta lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mandi daripada versi filmnya. Slime hijau masih muncul saat tantrum, dan Sophie yang ketus dapat menanganinya dengan baik. Selalu lari dari masalah dan tidak mau tahu urusan orang, bahkan selalu cuek saat mendapatkan pertanyaan. Calcifer pun tidak pernah sedikit pun menaruh hormat padanya. Sepanjang cerita, iblis api itu sibuk mengeluhkan Howl dan bersikeras untuk lepas darinya. Meski sosok yang sabar, Howl selalu bertengkar dengan Sophie, saling melemparkan sindiran kesabarannya habis. Namun di akhir cerita, Howl menunjukkan bahwa sebenarnya selama ini ia sosok yang strategis, cerdas, bertanggung jawab dan peduli pada Sophie namun dengan caranya sendiri. Ia tidak mau mengatakan rasa peduli dan menunjukkan sikap heroiknya yang muncul perlahan-lahan karena kesadaran yang ditanamkan Sophie dan desakan keadaan. Kejutan, sebenarnya Howl berasal dari dunia modern. Dia bernama asli Howell Jenkins dari Wales, Inggris. Ia juga sempat masuk universitas dan ikut klub rugby. 


ANJING PENGEKOR ROMBONGAN
Film: Saat Sophie datang ke istana, dia mengira seekor anjing yang mengikutinya adalah penyamaran dari Howl yang menjaganya. Namun setelah beberapa scene, ternyata anjing itu milik madam Sulliman, penyihir kerajaan yang diutus untuk membantu Sophie selamat sampai hadapannya. Dalam
perjalanan, Sophie berpapasan dengan Witch of Waste yang di akhir hari kehilangan kekuatannya. Setelah Howl menerobos masuk dan membawa Sophie melarikan diri, Witch of Waste dan anjing itu juga ikut pergi, menambah anggota keluarga kastil bergerak Howl. Sophie merawatnya dengan baik, bahkan anjing itu sangat suka mengikuti Sophie dan bermain bersama Markl.  


Novel: Sophie datang ke istana untuk menemui raja, karena penyihir kerajaan, Sulliman (pria, bukan wanita) menghilang berikut pangeran, dan Howl diutus untuk mencarinya. Tapi ia enggan (malas, sebenarnya) sehingga mengutus Sophie untuk menolak dan mencemarkan namanya agar raja tidak lagi percaya pada Howl. Namun kejujuran Sophie akan sifat Howl yang merepotkan malah membuat raja yakin ia memilih orang yang tepat dan akan mengangkat Howl menjadi penyihir kerajaan, menggantikan Sulliman. Di perjalanan pulang, Sophie bertemu dengan Witch of Waste, dan saling melemparkan ejekan. Sophie baru mendapatkan anjing yang ia kenali sebagai anjing milik Mrs. Fairfax, dan mendapati anjing tersebut adalah anjing jejadian karena ia sempat berubah menjadi manusia. Belakangan terkuak manusia jejadian tersebut adalah sisa dari percobaan sihir Witch of Waste.


Kira-kira begitulah garis besar perubahan. Masih banyak yang bisa dibahas, namun tidak ingin membuat pembaca terlalu kehilangan kesenangan saat menonton film maupun membaca novelnya. Didaulat sebagai novel untuk anak-anak, ceritanya cukup mengasyikkan. Ada  nilai-nilai kekeluargaan dan hiburan yang ringan. Tentu ada lebih banyak aksi dalam novelya. Seperti perjalanan Sophie dengan sepatu yang membawanya ke tempat lain dengan kecepatan cahaya, kegiatan mereka di ladang bunga Sulliman yang terganggu oleh kedatangan Turnip Head, rasa cemburu Sophie yang membabi buta setelah menyaksikan Howl merayu seorang perempuan asing *giggle*, rahasia kekuatan tersembunyi Sophie, pertempuran Howl dan Witch of Waste diatas pelabuhan Porthaven yang seru dan Howl lari dengan menyamar sebagai kucing, juga pertemuan dengan setan api selain Calcifer!

Film dan novelnya COMPLETELY DIFFERENT, jika saya bilang. Banyak fans asli novelnya kecewa, namun Diana, novelisnya sendiri mengaku sangat senang dengan hasil Hayao Miyazaki. Tidak perlu diperdebatkan mana yang lebih baik atau mana produk gagal, Hayao sendiri menjadikan Howl’s Moving Castle sebuah cerita baru yang berbeda dan menggungah, khas studio Ghibli. Bisa dibilang karya animasinya adalah dunia paralel dari novelnya. Masing-masing berdiri sendiri, memiliki kekuatannya sendiri, dan memiliki kesan masing-masing yang unik. 

                                        

No comments:

Post a Comment