Pages

Wednesday, November 9, 2016

New World Order: Saya Setuju

Aku sedikit banyak mendukung rencana kerja New World Order. Ya, perkumpulan yang kalian benci dan sudut-sudutkan sebagai penjahat dunia. But sshh, setiap perkataan punya alasan. Dan aku punya alasanku tersendiri. Aku bukan fans mereka, atau murni mendukung kebenaran yang dijungjung oleh mereka. But hey, mari kita berdiskusi dari hati ke hati, melihat sesuatu tidak dari satu perspektif.

Pernah mengecek news feed medsos, atau ikut grup jual beli online, kemudian segera ilfeel saat melihat seseorang memposting atau merespon sesuatu dengan liar, yang amat out of topic? Tentu sering. Sebagai contoh, seseorang berjualan baju dalam wanita, namun kolom komentar penuh berisi pria-pria dengan kalimat-kalimat iseng dan bodoh. Atau artikel yang membahas tentang prestasi seorag pemimpin dari ras minoritas, namun dipenuhi komentar SARA dan membawa pasal serta ayat-ayat kitab suci tertentu yang sebenarnya ndak ada hubungannya sama sekali? It’s all trashy. You may say, stupidity.

Tidak ada yang bisa disalahkan dari hal ini. Setiap orang merdeka untuk mengutarakan isi kepalanya. Atau memang sesungguhnya tidak ada isinya, hanya angin semata berputar disana, membusuk dan keluar sebagai angin bau. Terlalu sok jika sepenuhnya menyalahkan pola pendidikan formal. Sepintar-pintarnya anak di sekolah. Jikalau saat pulang kerumah dia menyaksikan ibunya membuang sampah di sungai atau ayahnya melempar sperma sembarangan, tetap saja anak ini akan menjadi gumpalan kerusuhan

Kumuh. Rusuh. Ndak bisa berpikir positif. Bumi sudah semakin menua, manusia semakin manja. Seleksi alam tidak lagi berjalan aktif. Yang bekerja keras bisa dikalahkan oleh yang malas hanya karena tumpukan uang. Yang jujur ditebas oleh manipulasi, membuat kejujuran menjadi tabiat langka. Hilang sudah ingatan kita semua akan buku-buku PMP, PPKn, Budi Pekerti. Formalitas hanya formalitas. Guru tetap menjadi pahlawan tak terlihat jasa.

Saat kita tengah hura-hura melempar kata-kata kotor dan bertengkar bersama, para petinggi, filsafat, dan ilmuwan melihat kita dengan tertawa. Mengapa menyia-nyiakan energi dan kemahabesaran otak untuk hal seperti itu. Kita tidak ubahnya kotoran yang bandel, berlarian di kaca mobil. Mengganggu pandangan, membawa pada kecelakaan. Selalu seperti itu. Apa yang bisa membawa kita pada keseimbangan? Sekali lagi, seleksi alam.
.
.
.
Aku malas melanjutkan karena pasti akan timbul salah paham. Entah mengapa, selalu banyak yang tidak menangkap penjelasanku dengan baik, dan mengatai aku radikal, blebleble. Darisitu sendiri aku sudah mengambil teori seleksi alam. Aku bisa berteman baik dan intens hanya dengan orang-orang yang bisa memahami essaiku, atau bahkan mencerna dan memantulkannya dengan baik. New World Order bekerja dengan cara yang sama. Degenerasi otak, bermain kode acak, manipulasi, semua itu untuk melakukan seleksi. Tidak ada gunanya sampah berserakan di jalan. Kita semua sampah. Kita harus segera bergegas ke liang kubur dengan sadar.

Bagaimana agar diri tidak menjadi sampah? Belajar dengan giat, menjadi lunatic, memuja rasionalism? No. Jadilah pribadi yang berguna untuk orang lain secara positif. Hormati tanaman, sayangi hewan, jaga lingkungan. Jangan enggan untuk menghardik orang yang membuang sampah sembarangan, menerobos lalu lintas, atau tidak mau antri. Aku pernah membuat seorang anak kecil menangis karena aku menyuruhnya antri. Tidak ada penyesalan. Seperti yang kita tahu, bangsa kita bangsa yang bebal dan sulit dinasehati. 

Merengek dan meminta sudah biasa, kita lupa kalau punya harga diri. Jadi, coba lihat dirimu, apa kabar harga diri dan justice? Kalau mau merubah nasib dan dunia, rubahlah diri kita sendiri terlebih dahulu. 

No comments:

Post a Comment